Preaload Image

Sesi Ngopi Vol. 4 “Apakah Disleksia Sebuah Penyakit dan Tidak Dapat Diobati?”

Ngopi Vol. 4 bersama Dr. Intaglia Harsanti, M. Si seorang Dosen Psikologi Universitas Gunadarma

Akhir-akhir ini, mulai bermunculan istilah-istilah baru berkaitan dengan proses perkembangan diri, seperti insecure, self confidence, mental health, dan lainnya. Salah satu yang masih jarang dibahas di Indonesia adalah istilah Disleksia. Padahal, sudah ada 10% anak Indonesia yang mengalaminya. Namun, banyak orang yang belum begitu mengetahui apa itu Disleksia. Bahkan, sebagian orang menganggap Disleksia adalah sebuah penyakit. Benarkah demikian?

Dikutip dari pernyataan Dr.Intaglia Harsanti, M.Si dalam kegiatan live Instagram NGOPI Schole Fitrah, Disleksia adalah sebuah gangguan perkembangan dalam proses belajar berkaitan dengan kemampuan membaca. Disleksia ini tergolong ke dalam gangguan saraf pada otak yang memproses bahasa. Jadi, Disleksia bukanlah sebuah penyakit akan tetapi gangguan, karena seseorang mengalami kesulitan belajar sehingga tidak memengaruhi tingkat intelegensinya.  

Bagaimana Cara Mengetahui Anak Mengalami Disleksia?

Gejala yang muncul jika anak mengalami Disleksia terjadi mulai usia 1-2 tahun. Akan tetapi, terkadang orang tua baru menyadari ketika anak sudah masuk sekolah, karena terdapat tuntutan untuk belajar membaca. Oleh karena itu, untuk dapat mengenali lebih jauh Ayah Bunda perlu mengetahui terlebih dahulu gejala-gejala yang muncul jika anak mengalami Disleksia. Pertama, penggolongan untuk anak usia prasekolah. Ciri-ciri yang akan terlihat yaitu anak akan mengalami keterlambatan dalam melafalkan kosakata baru. Misalnya anak mendapatkan kosakata “bersih”, anak akan mengalami kesulitan dalam mengucapkannya karena baru pertama kali mendengar.

Selain kesulitan melafalkan kosakata baru, anak juga mengalami kesulitan saat melafalkan kosakata-kosakata yang hampir mirip. Misalnya kosakata cicak dengan cacing, dandan dengan dandang. Hal ini juga berkaitan dengan gejala berikutnya yaitu anak mengalami kesulitan dalam membedakan huruf-huruf yang mirip. Misalnya huruf “b” dengan “d”, huruf “m” dengan “n”. Kondisi demikian berdampak pada sulitnya anak dalam mengingat dan menghafal huruf, warna, nama, dan lainnya.

Setelah mengetahui beberapa gejala yang muncul jika anak mengalami Disleksia usia prasekolah, mulai sekarang Ayah Bunda harus lebih aware ya untuk mengenali sedari dini. Bagi Ayah Bunda yang memiliki anak usia sekolah, perlu diperhatikan juga ya. Berikut ini gejala anak yang mengalami Disleksia di usia sekolah ditandai dengan kemampuan membaca anak lebih rendah daripada anak-anak yang lain. Misalnya temannya sudah bisa membaca dengan lancar akan tetapi dia masih terbata-bata dalam membaca sebuah kalimat. Anak juga memiliki masalah dalam proses memahami apa yang didengar. Hal ini disebabkan karena kesulitan dalam mencerna kata-kata yang ditangkapnya.

Gejala lain yaitu ketika anak ditanya oleh orang di sekitarnya mengalami kesulitan dalam menjawab, karena merasa kebingungan untuk melafalkan kosakata-kosakata yang sebenarnya sudah ada dalam kepala mereka. Anak juga mengalami kendala dalam kemampuan mengingat secara berurutan, misalnya urutan angka dan huruf sehingga terkadang sering terbolak-balik saat menyebutkannya.

Apa yang Harus Dilakukan?

Setelah Ayah Bunda mengetahui apakah anak mengalami Disleksia atau tidak, lalu langkah apa yang selanjutnya harus dilakukan? Langkah pertama, orang tua jangan langsung mendiagnosa anak. Jika merasa mengalami gejala-gejala yang sudah dijelaskan di atas, Ayah Bunda harus segera berkonsultasi ke ahli seperti ahli psikologi anak dan therapy berbicara. Hal ini dilakukan agar bisa ditangani lebih lanjut, karena tiap anak memiliki tingkat keparahannya sendiri, apakah berada dalam level ringan, sedang, atau berat. Disleksia ini juga tidak dapat diobati karena bukan sebuah penyakit melainkan dapat diatasi. Oleh karena itu, penting bagi Ayah Bunda mengenali anak sedari dini agar dapat ditangani sedari dini pula.

Disamping itu, orang tua juga memiliki peran penting dan tentunya sangat berpengaruh ke anak. Terkadang, lingkungan sering memberikan pengaruh kurang baik dengan mengejek atau menjatuhkan mental anak yang mengalami Disleksia karena mengalami kesulitan dalam kemampuan membaca tersebut. Oleh karena itu, anak membutuhkan dukungan penuh dari lingkungan terdekat yaitu keluarga terutama orang tua. Dampingi anak dengan penuh kelembutan dan kesabaran. Perlahan demi perlahan ajari anak untuk berlatih menyebutkan warna-warna misalnya “biru”, “merah”, “kuning”. Pengenalan warna ini dapat dilakukan melalui gambar hewan atau cara lainnya.

Ayah Bunda juga dapat mengajari anak membedakan antara huruf satu dengan huruf lain dengan melabelinya dengan benda-benda yang ada di sekitar. Misalnya huruf “A” dilabeli dengan “Apel”, huruf “K” dilabeli dengan “Kucing”. Dengan menggunakan cara ini anak akan lebih mudah dalam memahami dan membedakan dari masing-masing huruf yang dipelajari. Setelah anak memahami huruf, barulah Ayah Bunda dapat berlanjut ke belajar kosakata.Bisa menggunakan cara yang sama atau ditambahi dengan penggunaan media yang menarik. Misalnya menggunakan media visual atau audio atau keduanya. Dengan demikian, akan membantu anak dalam melafalkan tiap kosakata yang dipelajari karena ada contoh yang dapat didengarkan secara berulang-ulang.

Kesimpulan

Disleksia bukanlah sebuah penyakit akan tetapi gangguan yang pada keterampilan membaca anak. Memang tidak ada obatnya, namun bukan berarti tidak bisa diatasi. Hal yang perlu digaris bawahi adalah orang tua harus dekat dengan anak, apabila menemukan ciri anak berbeda dari anak-anak pada umumnya, segera konsultasi ke ahli. Dukungan dari keluarga sangat mempengaruhi agar anak tidak merasa minder. Disleksia bukan berarti intelegensinya rendah, justru kemungkinan anak Disleksia memiliki intelegensi yang tinggi. Penanganan yang tepat dapat membuat prestasi anak meningkat.

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

×

Powered by WhatsApp Chat

× Chat kami untuk info Schole Fitrah