LGBT yang Salah atau Cara Pandang Saya yang Salah?

LGBT

Ngopi Vol. 2 bersama Kak Ami Kamila, S.St., M.Kes seorang praktisi Rproductive Health HIV/AIDS

Apa Itu LGBT?

Kehidupan manusia selalu beriringan dengan arus perkembangan zaman yang semakin modern. Perkembangan dunia semakin terlihat jelas akan fananya akibat dari tindakan manusia. Arus kehidupan yang bebas menjadikan kehidupan seakan-akan tak ada batasan. Kebebasan yang sesungguhnya bukanlah hal yang seperti itu. Bebas bukan berarti lepas, namun dalam kebebasan terdapat sebuah batasan untuk melakukan tindakan menjadi sebuah rambu-rambu yang menjadi dasar batasan untuk bertindak.

Arti bebas seringkali tersirat lepas, melepas ekspresi, tindakan, dan sikap dalam menjalankan peranan kehidupan. Adanya asumsi tersebut menjadikan tatanan kehidupan khususnya para generasi muda lebih lepas dalam bergaul. Pergaulan bebas ini sering kali berimbas salah satunya melalui LGBT. Lalu, apa sesungguhnya LGBT itu? LGBT kepanjangan dari Lesbi, Gay, Bisexual, dan Transgender yang merupakan sebuah perilaku penyimpangan seksual yang tidak sesuai dengan fitrahnya. LGBT termasuk ke dalam orientasi seksual, jika Lesbi menyukai sesama perempuan, Gay menyukai sesama laki-laki, Biseksual menyukai perempuan dan laki-laki, dan Transgender identifikasi diri menyerupai perempuan maupun laki-laki.  

Apa Penyebab Terjadinya LGBT?

Seringkali bertanya-tanya apa yang menyebabkan LGBT. Faktor utama penyebab adanya tindakan dan perilaku LGBT itu karena faktor lingkungan. Kemudian faktor lingkungan dibagi menjadi 2 yaitu primer (lingkungan keluarga) dan sekunder (pergaulan luar keluarga). Berdasarkan pemaparan dari Kak Ami, terdapat beberapa aspek yang menjadi faktor penyebab LGBT, yaitu: 

  • Keluarga, akibat dari kehilangan sosok ayah atau kurangnya kasih sayang dari orang tua sejak kecil. 
  • Lingkungan dan pergaulan.
  • Hormon dan biologis.
  • Pendidikan/moral .

LGBT ini tergolong sebagai masalah kejiwaan seperti ujaran oleh Menteri Kesehatan RI Nila Djuwita F Moeloek saat berkunjung ke Kota Padang, Sumatera Barat pada Februari 2016 lalu. “Dari sisi kesehatan, LGBT itu masalah kejiwaan. Beda dengan gangguan kejiwaan, kalau gangguan mereka yang tergabung di dalamnya tidak bisa berinteraksi”. Sehingga LGBT ini sangat ditentang keras di negara Indonesia. LGBT ini tidak hanya merusak fisik tetapi jiwa juga, maka dari itu sangat penting menjaga diri agar fitrah yang ada dalam diri mampu berkembang dengan baik khususnya fitrah keimanan dan fitrah seksualitas. 

Adaptasi di Era Modernisasi

Bertahan dengan keyakinan yang kuat adalah tantangan terbesar dalam kehidupan saat ini. Adapun hal yang menjadi dasar dalam menjalani alur kehidupan ini yaitu keteguhan dan keyakinan dalam setiap individu. Sebagai manusia, kita tidak dapat menyalahkan keadaan dan kondisi begitu saja,  karena sejatinya semua kembali lagi pada cara kita menyikapi kondisi dan keadaan. Seperti yang kita ketahui bahwa sekarang memasuki era dimana semua bisa saling mudah melakukan interaksi bahkan tidak adanya sebuah batasan dan hambatan.

Salah satu masalah yang menjadi tantangan terbesar dalam kehidupan era sekarang yaitu LGBT, hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Ami Kamila, S.ST., M.Kes menyatakan bahwa “Munculnya fenomena LGBT ini menurut Al-Qur’an Surat Al-A’raf Ayat 80 terjadi sejak zaman Nabi Luth yang terjadi pada kaumnya. Muncul lagi di zaman sekarang semenjak banyak negara mengesahkan pernikahan sesama jenis ini, sehingga yang awalnya mereka sembunyi sekarang mulai marak muncul di permukaan”. Dari pernyataan ini maka tersirat sebuah pertanyaan, “Jika ada teman kita yang termasuk dalam bagian LGBT, sikap apa yang seharusnya kita lakukan? Bagaimana melihat dari sudut pandang sesama manusia dan sudut pandang agama?” ujar para scholer’s.

Adanya pertanyaan tersebut, maka hal yang dapat kita lakukan yaitu harus merangkul, tidak menjudge orang tersebut, dan tidak menjauhi. Apabila kita menyudutkan orang tersebut akibatnya akan buruk. Melihat hal tersebut sangat amat dibutuhkan kekuatan dan keyakinan pada jiwa masing-masing, agar tetap terjaga dan mampu menyaring hal yang baik dan buruk dalam setiap siklus kehidupan. Pada akhirnya semua kembali lagi bagaimana cara kita menyikapi hal tersebut. Maka gunakanlah waktu sebaik mungkin dan memanfaatkannya dengan hal-hal yang positif dan berkah dalam kehidupan. 

Kesimpulan :

Tetap jadilah diri sendiri yang berpegang teguh pada keyakinan dan kepercayaan masing-masing, melakukan hal-hal yang positif dan produktif . Serta jangan pernah menyalahkan keadaan dan kondisi tetapi mampu merubah untuk menjadi lebih baik dan bermakna.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *