Sesi Ngopi Vol. 2 “Frustasi, Tanda Anak Sedang Tantrum?”

Frustasi Tanda Anak Sedang Tantrum

Ngopi Vol. 2 bersama Bunda Diah Mahmudah seorang Praktisi Psikologi Dandiah Care Parenting and Marriage Counselor

Frustasi Tanda Anak Sedang Tantrum? Pernahkah Bunda kewalahan mengatasi anak yang sedang menangis, emosi yang meledak-ledak, meluapkan dengan berteriak, menendang, memukul, berguling-guling di lantai, hingga melempar barang? Dari gejala tersebut, kemungkinan anak sedang mengalami tantrum. Yuk kenali lebih dalam tanda-tanda, penyebab, dan cara mengatasinya. Biasanya, anak tantrum terjadi pada usia 1-4 tahun. Namun, ada juga anak di atas usia tersebut yang masih mengalami tantrum. Menurut psikologi perkembangan, tantrum adalah kondisi anak  yang sedang berada di puncak frustasi dan mengekspresikan kemarahannya dengan berlebihan bahkan bisa sampai merusak. Perilaku-perilaku yang ditunjukkan anak ketika mengalami ekspresi marah antara lain adaptif, maladaptif, dan merusak (destruktif). Nah, perilaku tantrum pada anak di sini termasuk pada kategori ekspresi marah maladaptif dan merusak (destruktif).

Frustasi Tanda Anak Sedang Tantrum

Frustasi Tanda Anak Sedang Tantrum dapat menyebabkan kerusakan fisik, contohnya ketika anak menangis dengan memukul benda keras di sekitarnya akan mengakibatkan luka. Contoh lain saat anak menangis dengan berteriak-teriak maka akan menyebabkan rasa sakit pada tenggorokan. Bunda Diah Mahmudah, seorang Praktisi Psikologi Dandiah Care Parenting and Marriage Counselor dalam live Instagram kegiatan NGOPI (Ngobrol Pakai Ilmu) oleh Schole Fitrah, membahas lebih dalam mengenai anak tantrum ini. Menurut beliau, sebenarnya anak tantrum adalah anak yang sedang mengalami frustasi. Keadaan anak yang tengah meminta suatu hal dengan baik-baik namun lingkungan tidak merespon, sehingga dia harus bersikap anti mainstream agar mendapatkan perhatian untuk memenuhi kebutuhannya.

Dari sisi orang tua, kondisi anak yang mengalami tantrum mengisyaratkan bahwa orang tua belum berhasil dalam memenuhi kebutuhan anak, baik dari sisi biologis maupun psikologis. Lalu dari sisi biologis, perilaku anak yang menunjukan ingin makan, minum, tidur, dan lain sebagainya tapi Bunda tidak mampu menangkap pesan tersebut. Sementara itu dari sisi psikologis, anak sedang membutuhkan perhatian, cinta, kasih sayang, dan lainnya akan tetapi Bunda belum mampu memenuhinya. Bunda Diah menjelaskan lebih lanjut mengenai kebutuhan psikologis anak menurut beberapa tokoh psikolog antara lain yaitu (1) secure attachment, kebutuhan anak untuk dukungan; (2) kebutuhan validasi ekspresi emosi anak, Bunda mengakui, menerima, dan memperbolehkan anak; (3) kebutuhan bermain; (4) kebutuhan mendapatkan otonomi, kompetensi, dan merdeka. Anak diberikan kebebasan untuk  menentukan pilihannya; dan (5) kebutuhan diberikan batasan dan kendali diri.

Cara mengatasi anak yang sedang tantrum

Saat keadaan anak yang mengalami tantrum, Bunda harus mengetahui apa saja penyebabnya. Jika sudah memahami, Bunda dapat menenangkan dan mengatasi anak sesuai dengan kebutuhannya.  Lalu, bagaimanakah cara mengatasi anak yang sedang tantrum? Lebih dalam, Bunda Diah memberikan beberapa tips dalam kegiatan NGOPI ini yang dapat ikuti oleh para Bunda. Pertama adalah Bunda harus tetap tenang. Salah satu syarat menghadapi pesan anak yang tantrum adalah emosi Bunda harus di atas emosi anak-anak atau dalam keadaan stabil. Keadaan kita harus lebih satu level di atas anak-anak. Oleh karena itu, Bunda harus menuntaskan dirinya terlebih dahulu, sehingga nantinya akan lebih siap ketika menghadapi anak tantrum.

Umumya, anak tantrum terjadi pada usia 1-4 tahun seperti yang sudah dijelaskan di atas. Apabila anak usia 7 tahun masih mengalami tantrum, jika sesekali masih dibilang wajar. Namun, jika sering mengalami tantrum, maka perlu membenahi diri terutama dari sisi orang tua, karena pada usia ini masih dapat diperbaiki, kecuali jika usia sudah 10 tahun ke atas. Kemungkinan anak masih mengalami tantrum di usia tersebut, karena dia belum mendapatkan do and don’t. Jika anak melakukan A atau B pun Bunda jangan langsung berasumsi tapi harus bertanya terlebih dahulu, “Don’t assume but ask” jelas Bunda Diah. Kembali lagi, untuk menghandle emosi anak, orang tua harus bisa menghandle emosinya sendiri terlebih dahulu.

Kedua, cari tahu penyebabnya. Terbatasnya kemampuan anak dalam berbahasa untuk mengekspresikan perasaannya, membuat banyak kemungkinan penyebab anak mengalami tantrum. Kembali lagi pada pembahasan awal, Bunda harus mengenali terlebih dahulu kebutuhan apa yang anak butuhkan, apakah berkaitan dengan biologis atau psikologis? Nah, jika penyebab tantrum anak sudah paham, maka Bunda akan lebih mudah mengatasinya. Cara selanjutnya yaitu bantu anak agar bisa mengungkapkan perasaannya dengan baik. Bunda harus bisa membedakan antara emosi dengan ekspresi emosi. Jika emosi berasal dari dalam diri secara alami sedangkan ekspresi emosi berasal dari luar.

Orang Tua Sebagai Role Model Anak


Oleh karena itu, ekspresi emosi ini bisa belajar dari guru. Orang tua merupakan guru yang memiliki peran penting bagi anak berkaitan dengan mengekspresikan emosi. Orang tua lah yang menjadi role model dan tuntunan bagi anak. Ketika anak mengalami kondisi ingin mengekspresikan kemarahannya tersebut, maka orang tua dapat melatih anak dengan mencontohkannya dengan benar. Misalnya “Nak, kenapa? Ingin nangis? Nangis dulu ya dikeluarin semua biar lega” atau ketika Bunda sedang ingin meluapkan emosi jangan sampai memukul atau membanting barang. Hal tersebut dapat langsung terlihat pada anak dan secara tidak langsung Bunda sudah memberikan contoh yang tidak sesuai dengan adab. Maka dari itu, dalam meluapkan ekspresi emosi orang tua harus memberi contoh yang baik agar anak juga mencontohnya dengan cara yang benar.

Kesimpulan

Dibalik anak tantrum terdapat anak yang sedang frustasi dan dari orang tua yang belum dapat memenuhi kebutuhan anak, baik biologis maupun psikologis anak. Pesan kepada orang tua, janganlah langsung berasumsi kepada anak, bertanyalah terlebih dahulu, lalu posisikan emosi diri setingkat lebih tinggi dari anak.

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *