Sesi Ngopi Vol. 1 “Inner Child Merupakan Bagian Diri Kita dan Bukan Sebuah Kesalahan”

flyer-artikel-6

Ngopi Vol. 1 bersama bunda Yulianti seorang Praktisi Fitrah Based Education and Home Education

Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari pengalaman masa lalu yang sangat melekat dalam diri. Pengalaman sekecil apapun tentunya mampu terukir dan membekas dalam sejarah kehidupan. Namun, tidak semua pengalaman tetap terukir bekas hingga mampu mempengaruhi pola hidup yang semakin terpuruk bahkan lepas dalam diri sendiri. Sehingga sangat kita butuhkan wawasan atau literasi yang berkaitan dengan siklus kehidupan yang terus mengalami perubahan. Khususnya dalam kehidupan yang semakin terlihat fana akan kebenaran dan kebajikan. Dinamika kehidupan yang semakin membara mampu membawa pengaruh pada para pemuda. Pemuda adalah aset terbesar dalam melakukan suatu perubahan melalui karakter dan pola perilaku dalam dirinya. Namun, perlu kita ketahui bahwa pengaruh dan tantangan  terbesar adalah diri sendiri, lingkungan sekitar dan pola perilaku.  Adanya hal ini, maka hadirlah sebuah acara yang sangat menarik melalui NGOPI (Ngobrol Pakai Ilmu) dengan tema “Inner Child” yang selalu beriringan dengan kehidupan kita sehari-hari bahkan tidak kita rasakan selama ini.

Nah, kak Ratu Fitriah dan kak Eni Febrianti menemani narasumber sangat luar biasa pada NGOPI ini yaitu bunda Yulianti. Beliau merupakan  seorang praktisi Fitrah Based Education and Home Education. Inner child sendiri sangat amat berkaitan dalam kehidupan, meskipun kita semua sudah memasuki usia remaja sampai dewasa.

Pengertian Inner Child

Inner child adalah bagian dari dalam diri kita, kepribadian seseorang yang terbentuk dari pengalaman masa kecil. Sifat kanak-kanak dalam sosok dewasa yang menolak dewasa. Menurut Whitfield, “We each have a ‘Child Within’ –the part of us that is ultimately alive, energetic, creative, and fulfilled. This is the Real Self – who we truly are.”  Semua manusia memiliki pengalaman masa kecil , yakni bagian dari diri manusia dari masa kecil yang akhirnya terbawa hingga dewasa, ia hidup, energik, kreatif, dan kebutuhannya terpenuhi, apabila hal ini terpenuhi maka dapat dikatakan sebagai diri manusia yang sebenarnya. 

Mengatasi Inner Child

Namun, tidak semua pengalaman masa kecil yang ada dalam diri kita mampu membawa dampak positif, karena telah kita ketahui bahwa sebagian besar banyak membawa kesenjangan hidup di era sekarang yang serba interaktif, terbuka dan loyalitas. Namun, tidak juga pengalaman masa kecil mampu membawa dampak negatif, semua ini kembali lagi dengan penerapan pola perilaku pada masa kecil yang dilakukan oleh orang tua dan lingkungan sekitar. Sebagian besar,   orang yang mengalami pengalaman masa kecil seringkali mengalami pendiam, tidak percaya diri, memori buruk saat kecil, introvert, gampang emosian. Lalu, apa yang dapat kita lakukan agar dapat mengurangi sifat dan sikap innerr child?? “cara untuk dapat mengatasi yaitu dengan membuat life plan and timeline  untuk menentukan arah tujuan hidup dan mengatur pola hidup di masa kedepan”, ujar bunda Yuli. 

Perbedaan Inner Child dan Trauma

Namun, terkadang masih banyak sekali yang masih sulit membedakan antara inner child dan trauma. Keduanya cukup sama-sama menciptakan pengalaman. Lantas apa yang membedakan? yang membedakan adalah waktu dan kondisinya. Jika trauma terjadi hanya pada waktu sekilas kejadian dan pada saat kejadian itu saja, tanpa adanya pengulangan. Sehingga trauma ini bukan termasuk inner child. Sedangkan inner child sendiri terjadi dengan kondisi yang secara terus menerus dalam kehidupan. Khususnya terjadi pada masa kecil bahkan bisa sejak dari dalam kandungan. Trauma juga mampu membawa dampak yang cukup kuat terhadap suatu hal untuk tidak mampu terlupakan. Contoh trauma yaitu takut air karena ada pengalaman yang cukup mengenang yaitu tenggelam. Inner child sendiri terbentuk karena adanya pola penerapan atau pola asuh yang kurang tepat. Sehingga mampu mempengaruhi pola perilaku yang akan tetap terbentuk saat dewasa.   

Hal ini seperti ujaran Bunda Yuli “Trauma ini mampu membekas namun belum tentu mampu merubah tatanan sikap dan perilaku, cukup saja adanya rasa takut. Sedangkan inner child lebih menekankan pada pola perilaku, sikap dan sifat yang sudah menjadi kebiasaan sehingga mampu tertanam kuat sampai kita dewasa”. Nah sebagai informasi, inner child sendiri ini hanya terjadi pada masa kecil saja. Untuk itu pola asuh dan pengalaman sangat amat mempengaruhi pola sikap dan sifat untuk kehidupan yang akan datang atau masa dewasanya Inner child bukanlah sebuah trauma melainkan sebuah pola perilaku yang sudah terbiasa dan mampu membentuk perubahan sikap atau sifat yang terbawa sampai dewasa. serta pengalaman masa kecil sendiri terjadi pada masa usia anak-anak saja.  “Jangan menyerah, kamu sudah terlanjur kesakitan. Tetaplah raih hasilnya.”   – Eric Thomas

Kesimpulan

Inner child adalah bagian dari dalam diri kita, kepribadian seseorang yang terbentuk dari pengalaman masa kecil. Namun, tidak semua inner child yang ada dalam diri kita mampu membawa dampak positif, karena telah kita ketahui bahwa sebagian besar banyak membawa kesenjangan hidup di era sekarang yang serba interaktif, terbuka dan loyalitas.

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *