Preaload Image

PODCAST “Gapapa, Hari Ini Memang Berat”

Narator POSITIF Episode 2 bersama Risani dan Arya dari Divisi Content Specialist

Pernahkah kamu merasa jika dirimu lebih baik daripada temanmu atau orang lain? Atau pernahkah dirimu merasa jika kamu tidak bahagia melihat temanmu mendapati kebahagiaan? Jika pernah, berarti kamu sama denganku dulu. Dulu, aku sering sekali merasa risih ketika melihat teman-temanku membagikan momen membahagiakannya di sosial media. Dalam hatiku sering berkata “Apa sih gini doang diupload?”, “Alay banget dah manusia yang satu ini”, “Gini doang mah aku juga pernah”, dan berbagai perkataan-perkataan tidak menyenangkan lainnya.

Selain itu, aku juga pernah marah sejadi-jadinya ketika melihat temanku mendapatkan promosi jabatan pekerjaan dari atasanku. Aku marah karena aku merasa jika aku lebih pantas untuk mendapatkan promosi jabatan itu.

Karena emosiku yang tidak stabil dulu, aku bahkan pernah memutuskan resign dari pekerjaanku karena aku marah kepada atasan saat teman-temanku mendapatkan promosi jabatan. Lalu, apa yang aku peroleh? Yang aku peroleh hanyalah penyesalan. Hanya karena emosi sesaat itu, aku menjadi kehilangan pekerjaanku, aku kehilangan kepercayaan teman-temanku, kehilangan mata pencaharianku, menganggur, luntang-lantung, mencari pekerjaan kesana dan kesini, menjadi beban orang tua, dan lain sebagainya hanya karena emosi sesaat itu.

Di balik semua keterpurukanku saat itu, syukurnya aku masih mempunyai orang-orang luar biasa yang masih mau mensupport aku. Bersedia mendengarkan seluruh keluh kesahku, memberikan semangat, memberikan saran, memberikan nasihat, dan berbagai hal lainnya yang mampu membuatku tetap berdiri dan menjadi siap menjemput masa depan lagi. Dari nasihat-nasihat atau motivasi teman-teman dan kerabatku, aku menyadari banyak hal. Aku menyadari bahwasannya aku seharusnya tidak boleh merasa risih ketika melihat teman-temanku mendapati teman-teman atau orang lain membagikan momen membahagiakannya. Karena ketika aku merasa risih ketika melihat hal itu, itu tandanya bahwa aku merasa iri atau dengki terhadap kebahagiaan mereka, yang mana rasa iri atau dengki merupakan salah satu penyakit hati sesuai dengan hadits di bawah ini:

“Dari Zubair bin Awwam ra berkata; Rasulullah saw bersabda: “Telah menyebar diantara kalian penyakit orang-orang sebelum kalian, yaitu dengki dan benci. Benci itulah pemangkas yang akan memangkas agama bukan memangkas rambut. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah kalian beriman sehingga kalian saling mencintai, maukah aku beritahukan kepada kalian sesuatu yang jika kalian lakukan pasti kalian akan saling mencintai, yaitu sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Ahmad).

Adapun kita diperbolehkan merasa iri atau mendengki pada 2 hal sesuai dengan hadits sebagai berikut:

“Aku mendengar Abdullah bin Mas’ud berkata; Nabi saw. bersabda: “Tidak boleh mendengki (iri) kecuali terhadap dua hal; (terhadap) seorang yang Allah berikan harta lalu dia pergunakan harta tersebut di jalan kebenaran dan seseorang yang Allah berikan hikmah lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain.” (HR Al-Bukhari).

Lalu selain dari hal yang sudah disebutkan tadi, sejak kejadian itu aku juga sudah mulai mau menerima dan menyadari bahwasannya setiap orang memiliki rezekinya sendiri dan tentunya tidak akan pernah tertukar sesuai dengan yang ditakdirkan. Boleh saja saat ini aku terlihat tertinggal beberapa langkah oleh teman-temanku ataupun orang lain, akan tetapi aku harus yakin bahwasannya di balik semua itu Allah SWT sedang mempersiapkan skenario terbaik untuk diriku yang mana sudah sesuai dengan Ridha-Nya. Jika aku boleh mengutip sebuah pepatah, yang mana mungkin semua dari kita sudah sering mendengar pepatah tersebut. Kita harus percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan “Semua akan indah pada waktunya” bagi kita-kita semua yang mau bersungguh-sungguh untuk berusaha.

Terakhir, untuk saling menguatkan satu sama lain penulis ingin sekali berbagi beberapa hadits favorit yang dapat dijadikan sebagai reminder sekaligus penyejuk jikalau hati sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja karena ketidakterimaan melihat orang lain jauh lebih baik daripada kita. Berikut ini adalah beberapa haditsnya:

“Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya ujian, dan bahwa Allah, apabila menyayangi atau mencintai suatu kaum, maka Allah akan mengujinya, dan bagi siapa saja ridha, maka baginya keridhaan dari Allah, dan barangsiapa yang membenci, maka baginya kebenciaan dari Allah SWT.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

“Barangsiapa yang berusaha menjaga diri, maka Allah menjaganya, barangsiapa yang berusaha merasa cukup, maka Allah mencukupinya. Barangsiapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya bisa bersabar dan tidak ada seorang pun yang dianugerahi sesuatu yang melebihi kesabaran.” (HR Bukhari No 1469).

Dari beberapa pemaparan di atas, aku ingin sekali mengajak teman-teman semuanya untuk memulai agar kita semua mampu memahami bahwa setiap individu mempunyai caranya masing masing untuk bahagia sehingga kita tidak memiliki hak untuk membicarakannya atau sinis terhadapnya. Lalu selain itu aku juga ingin mengajak lagi kepada teman-teman semuanya jika kita harus senantiasa meninggalkan kebiasaan buruk dari “Senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang”

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

×

Powered by WhatsApp Chat

× Chat kami untuk info Schole Fitrah