Sesi Ngopi Vol. 2 “Yuk, Berakhlakul Karimah Dengan 3 Magic Words!”

flyer-artikel-10

Ngopi Vol. 2 bersama Bunda Deasy Puspawati seorang praktisi Home Educator Berbasis Fitrah dan Founder of Schole Fitrah

Berakhlakul Karimah Dengan 3 Magic Words

Berakhlakul Karimah Dengan 3 Magic Words, Ada apa dengan 3 magic words? 3 kata ajaib yang mengandung kedalaman makna, terdengar ringan, dan kadang terlupakan namun sangat sulit untuk diterapkan, yaitu kata “Maaf, Tolong, dan Terima Kasih”. Sebelum memahami lebih lanjut, yuk kita lihat dulu makna dari ketiga kata tersebut. Pertama, maaf berasal dari bahasa Arab afwu  yang berarti penghapusan atau pengampunan. Dengan menggunakan kata maaf ini, berarti kita meminta pengampunan atau penghapusan atas hal kurang berkenan yang sudah dilakukan. Namun, untuk mengucapkan kata ini sangat sulit karena ego manusia yang tinggi. Padahal, dengan berani meminta maaf terlebih dulu bukan berarti lemah justru menjadi pemenang sejati. Oleh karena itu, kita harus lebih berhati-hati untuk tidak menyakiti orang lain dan menjaga perasaannya.   

Kedua, kata tolong, merupakan bentuk rasa sadar manusia sebagai makhluk lemah sehingga membutuhkan bantuan orang lain. Menggunakan kata tolong ini tidak akan membuat diri kita rendah, akan tetapi terdengar lebih sopan dan menghargai. Sebaliknya, jika meminta bantuan orang lain tanpa menggunakan kata tolong akan membuat diri terlihat semena-mena terhadap orang lain. Ketiga, kata terima kasih, mengandung arti sebagai bentuk rasa syukur atas segala hal yang telah didapatkan. Kata yang memiliki kekuatan besar karena sebagai bentuk empati kepada orang lain dan rasa menghargai. 

Hubungannya dengan Fitrah Sosialitas dan Fitrah Estetika Bahasa 

Lebih lanjutnya, 3 Berakhlakul Karimah Dengan 3 Magic Words selaras dengan fitrah manusia, merupakan bawaan dari lahir yang melekat pada diri seseorang dan selayaknya dapat dikembangkan. Fitrah yang berkaitan yaitu fitrah sosialitas, bahwa anak di atas 7 tahun sudah berada di fase peralihan dari egosentris menjadi sosiosentris. Artinya, anak sudah mulai tumbuh sisi sosialnya, menyadari untuk menghargai lingkungan sekitar dan berhati-hati akan sikap dan ucapannya. Oleh karena itu, sekali lagi penggunaan 3 kata ajaib ini sangat penting dalam kaitannya berhubungan dengan orang lain. 

Lalu bagaimana jika seseorang terlahir dengan fitrah sosialitasnya terkadang masih tidak bisa menurunkan egonya? Misalnya saat berbuat salah pada orang lain namun tidak mau minta maaf karena menganggap masalah itu sepele, padahal menyinggung perasaan orang lain. Jawabannya adalah kembali pada diri sendiri, sudah seberapa jauh memahami esensi dari fitrah sosialitas ini. 

Selain itu, fitrah estetika dan bahasa juga ikut mengiringi terkait 3 kata ajaib ini. Bahwa kata “Maaf, Tolong, dan Terima Kasih” adalah bagian dari keindahan dan kemampuan anak dalam berbahasa. Berkaitan dengan output pengucapan 3 kata ajaib tadi akan berdampak pada sikap yang positif, adab yang baik untuk diri sehingga berpengaruh pada amalan-amalan yang baik. Selain itu, secara tidak langsung juga hal-hal tersebut dapat berdampak pada hubungan kita terhadap Allah, Rasulullah, dan Orang Tua. 

Seberapa Pentingkah Mengajarkan 3 Magic Words pada Anak?

Ucapan seseirang akan memengaruhi akhlaknya. Konsep 3 magic words ini menjadi hal mendasar dan seharusnya diterapkan oleh semua kalangan, baik anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua. Terlebih, masa anak-anak menjadi masa perkembangan yang paling krusial, karena mereka dapat dengan mudah menyerap dan meniru dari lingkungan sekitar. Oleh karena itu, sangat penting untuk menerapkan 3 magic words ini. Bunda Deasy selaku Founder Schole Fitrah dalam live instagram NGOPI menambahkan “3 kata ajaib adalah bagian dari kebutuhan untuk membiasakan diri berakhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari. Penanaman akhlak yang baik ini perlu Ayah Bunda biasakan pada anak sedari dini. Menanamkan mindset tidak hanya sekadar bagian dari etika tetapi juga kebutuhan, yang mana jika meninggalkannya akan terasa ada yang kurang dalam hidup.”

Kata-kata ajaib ini nantinya juga dapat membantu anak dalam berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Memberikan timbal balik yang positif,  mencerminkan sebagai pribadi yang mulia, dapat menghargai, bertanggung jawab, dan berempati kepada orang lain merupakan output dari implementasi 3 magic words. Selain itu, secara tidak langsung keterampilan berkomunikasi anak juga terlatih. Terbiasa mengucapkan kata-kata sopan sehingga dapat menghargai lawan bicara. Memudahkan dalam beradaptasi karena membawa kebiasaan positif dan dampaknya akan terbawa ketika dewasa nanti. Namun, mengajarkan anak untuk berakhlakul karimah tidaklah mudah bukan? Yuk Ayah Bunda simak bagaimana cara menerapkannya! 

Menerapkan 3 Magic Words

Memulai untuk menerapkan hal baik memang bukan perkara mudah, apalagi jika belum terbiasa. Lalu bagaimana cara  Ayah Bunda menerapkan 3 kata ajaib ini pada anak? Tentunya yang pertama dengan menerapkan kepada diri sendiri terlebih dahulu. Anak akan terbiasa melakukan suatu hal jika dia melihat secara langsung. Lalu dia akan meniru apa yang telah dilihatnya. Dalam perkembangan sosialisasi, fase tersebut disebut dengan game stage. Peran Ayah Bunda akan mempengaruhi karena anak mempunyai role model sejak kecil. Jika Ayah Bunda menerapkan 3 magic words ini secara berulang-ulang, maka lama kelamaan anak akan mengerti dan secara otomatis terekam di memori anak sehingga lebih mudah untuk menerapkan. 

Setelah itu, Ayah Bunda dapat memberikan pemahaman pada anak sebagai manusia bahwa hidup itu berdampingan dengan manusia lain, sehingga melalui 3 kata ajaib ini menjadi sarana dalam menerapkan norma yang ada di masyarakat. Norma bertanggung jawab, menghargai, menghormati, dan berempati kepada orang lain. Selanjutnya yaitu dengan membiasakan. Teori tanpa pembiasaan ibarat makan tanpa nasi. Terasa ada yang kurang dan tidak akan maksimal. Hal ini sesuai dengan salah satu metode dalam pendidikan akhlak anak yaitu keteladanan dan pembiasaan. Membiasakan anak untuk memiliki akhlakul karimah secara terus menerus hingga dia merasa itu bagian dari kebutuhan.

Kesimpulan

3 kata ajaib yang syarat akan makna, terdengar ringan namun terkadang sulit untuk diterapkan. Tidak hanya itu, mengandung nilai yang berdampak pada diri sendiri dan sekitar. Memiliki output pada sikap yang positif, adab yang baik, dan mengarah pada amalan-amalan yang baik. Dengan begitu, kita juga sedang mengimplementasikan dan beradab pada Allah, Rasulullah, dan Orang Tua.

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *